a. Mazhab dan tokoh Mu’tazilah

a. Mazhab dan tokoh Mu’tazilah

Berbagai pandangan para tokoh Mu’tazilah diuraikan sebagai berikut :

secara keseluruhan, nampak pada ushul al-khamsah (lima asas):

1. tawhid (mengenai tauhid), bahwa Allah swt. adalah zat yang Maha Dahulu yang wajib diketahui melalui sifat-sifat yang layak untuk-Nya; kemudian wajib diketahui bagaimana sifat-sifat tersebut layak untuk-Nya, juga wajib diketahui sifat wajib dan mustahil bagi-Nya dalam setiap waktu, dan mana layak dalam satu waktu, tidak untuk waktu yang lain; kemudian wajib diyakini, bahwa dari keadaan-Nya ini, Dia mesti tetap satu, tidak ada yang menandingi dan menyekutukan-Nya dengan sifat-sifat, baik melalui penafian maupun pembuktian, berdasarkan batasan yang layak untuk-Nya.

2.al-‘adl(mengenai keadilan), adalah wajib diketahui, bahwa seluruh perbuatan Allah itu baik, dan Dia tidak akan melakukan perbuatan buruk, tidak akan kehilangan apa yang wajib bagi-Nya, tidak akan berdusta dalam berita-Nya, tidak akan zalim dalam hukum-Nya, tidak akan menyiksa anak-anak orang musyrik karena dosa orang-orang tua mereka, tidak akan memberikan mukjizat kepada para pembohong, tidak akan memberi taklif (tugas) kepada manusia yang tidak mampu dipikulnya dan dia ketahui, tetapi Dia akan memberikan kemampuan kepada mereka untuk melaksanakan apa yang Dia tugaskan kepada mereka.

3. al-wa’d wa al-wa’id (mengenai janji), ia adalah setiap berita yang berisi pemberitahuan manfaat kepada yang lain, atau menolak kemudaratan darinya pada waktu yang akan datang. Tidak ada bedanya, baik janji tersebut baik dan layak, atau pun tidak. Seperti yang dinyatakan, bahwa Allah swt. telah menjanjikan pahala untuk orang yang taat, maka juga seharusnya dinyatakan, bahwa Dia menjanjikan kemuliaan kepada mereka, padahal tidak berhak. Sedangkan al-wa’id (ancaman) adalah berita yang berisi pemberitahuan bahaya kepada yang lain, atau pencabutan manfaat darinya pada waktu yang akan datang. Tidak ada bedanya, baik ia baik dan layak, atau pun tidak. Seperti yang dinyatakan, bahwa Allah swt. mengancam orang-orang yang berbuat maksiat dengan siksa, sebagaimana penguasa mengancam yang lain untuk merusakkan dirinya, menodai kehormatan dan merampas hartanya, sedangkan dia tidak berhak, dimana tindakan juga tidak baik.

4. al-manzilah bayn al-manzilatayn (Mengenai kedudukan diantara dua kedudukan) , adalah bahwa orang mukallaf, tidak akan terlepas dari kemungkinan: sebagai orang yang memperoleh pahala, atau siksa. Jika ia merupakan orang yang memperoleh pahala, dan tidak akan terlepas dari dua kemungkinan: berhak mendapatkan pahala yang besar atau tidak. Jika dia berhak mendapatkan pahala yang besar, maka tidak akan terlepas dari kemungkinan: manusia atau pun bukan. Jika bukan manusia, dia adalah malaikat. Jika manusia, dia adalah nabi, rasul,orang yang diangkat oleh Allah, dipilih atau diutus dan sebagainya. Jika berhak mendapatkan pahala, bukan pahal yang besar, maka dia adalah orang yang beriman, bertakwa dan saleh. Jika dia mendapatkan siksa, maka tidak akan terlepas dari kemungkinan: berhak mendapatkan siksa yang besar atau tidak. Jika dia berhak mendapatkan dosa yang besar,berarti dia adalah kafir atau musyrik, baik manusia atau pun bukan. Jika berhak mendapatkan siksa, bukan siksa besar, maka ada kemungkinan dia adalah fasik, zalim, orang yang dilaknat dan sebagainya. Jadi, orang yang berdosa besar tidak disebut mukmin, kafir, munafik, tetapi disebut fasik. Seperti halnya ia tidak boelh disebut dengan sebutan untuk mereka (mukmin, kafir atau munafik) , maka hukum mereka juga tidak boleh diterapkan kepadannya, sebaliknya dia mempunyai sebutan khas dan hukum yang spesifik, yaitu hukum di antara hukum yang di atas.

5. al-amr bi al-ma’ruf wa al nahy ‘an al-munkar (amar makruf dan nahi munkar), maka maksud al-amr (perintah) adalah perkataan pihak yang menyatakan perintah kepada bawahannya dalam konteks: “lakukan”, sedangkan al-nahy (larangan) adalah perkataan pihak yang menyatakan larangan kepada pihak bawahannya dalam konteks: “jangan lakukan.” Adapun al-ma’ruf(makruf) adalah setiap perbuatan yang pelakunnya mengetahui tentang kebaikannya, atau mampu menunjukannya, sehingga perbuatan Allah tidak disebut ma’ruf, karena Dia “tidak mengetahui” kebaikannya dan “tidak menunjukannya”, sedangkan al-munkar (mungkar) setiap perbuatan yang pelakunya mengetahui tentang keburukannya atau boleh menunjukannya, sehingga sekiranya keburukan itu berasal dari Allah, maka ia tidak disebut mungkar, karena Dia tidak “mengetahui” keburukannya dan menunjukannya.

2 Komentar »

  1. Agus Suhanto Said:

    terimakasih o atas postingnya yang bagus…
    kenalkan saya Agus Suhanto

    • alfata2491 Said:

      sama-sama .. baru buat neh… insya Allah bakalan selalu ditingkatkan kualitasnya…. sering-sering mampir ya…


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: